Penyendiri
selalu punya alasan untuk menghabiskan waktu sendiri. Tidak peduli seberapa bosan dan menyebalkan
hari yang dilalui, penyendiri selalu menyukai kamarnya tanpa berbuat apa-apa. Bekerja,
bermalas-malasan, tanpa bersuara, sendiri. Tanpa suara bahkan jika ada lawan
bicara. Seperti halnya di dalam perpustakaan yang hening nan sakral. Penyendiri
selalu menemukan cara, untuk menyelinap dlam keramaian bagai bayang bayang yang
tak terperhatikan. Dipadu dengan minimnya hawa keberadaan, sungguh sempurna
keadaan baginya. Penyendiri selalu memiliki jalan lain, untuk melupakan hal
yang tak penting menurutnya. Merencanakan yang akan dilakukan dan melupakan
yang telah terjadi. Mengosongkan pikiran
dan mengisi dengan yang ada didepan mata. Memenuhi dengan apa yang
terjadi dirasakan. Penyendiri selalu memiliki alas an untuk bahagia dengan
caranya. Berada pada titik nyaman dan tak berpindah.
Dan akhirnya seseorang mengatakan langsung padaku mengenai isu yang biasanya tak akan nampak di depanku. Mengenai hal pengunduran diri, itu adalah hal yang tidak akan pernah ku sesali. Dan wajah dari semua orang mulai tampak dengan jelas. Membenarkan seluruh perkiraan selama beberapa waktu belakangan. Namun bagaimanapun, aku akan terus berusaha tak memihak isi pernyataan dari pihak manapun. Akan ku coba simpan sampai kutemukan asli dari segala sisi itu. Di satu sisi aku bersyukur tak ada hal buruk mengenaiku dari mereka, hanya aku yang memiliki pendapat buruk tentang beberapa dari mereka. Tapi disisi lain, meski bagi sebagian orang sisiku adalah lingkungan yang buruk, tidak semua hal dari mereka adalah buruk. Mengingat kembali frasa yang pernah ku baca, 1% of something must be plottwist of story, cukup ingat positifnya. Bukankah itu salah satu cara menciptakan pikiran damai di dalam kepala kita sendiri? Mungkin sebagian orang akan berpendapat bahwa itu hanya tindakan menipu diri s...

Komentar
Posting Komentar